Selasa, 22 Februari 2011

Iwan Fals: Amerika Mah Lewat...

JAKARTA, KOMPAS.com — Penyanyi legendaris, Virgiawan Listanto atau yang lebih dikenal dengan sapaan Iwan Fals, makin getol saja menyuarakan masalah lingkungan.
Ini terlihat dari konser ngabuburit bareng Iwan Fals dan League yang diadakan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Jumat (27/8/2010), yang mengusung tema "Keseimbangan Bumi League, Bumi Kita".
Laki-laki kelahiran 3 September 1961 ini mengaku akan tetap optimis dalam usaha menyehatkan lingkungan. Caranya, dengan berusaha menyemangati orang-orang untuk menjaga lingkungan. Hal itu dimulai dari diri sendiri dengan mencintai tanaman.
"Karena kalau kita menjaga pohon dan lingkungan, itu kan bisa menghasilkan oksigen. Nah, oksigen itu sangat penting untuk masa depan. Maka sebaiknya kita memelihara lingkungan. Sebenarnya memelihara enggak sulit, cuma bergerak untuk memeliharanya yang sulit," ungkap pendiri Yayasan Orang Indonesia ini.
Selain itu, menurut pemilik album berjudul Keseimbangan ini, Indonesia bisa menjadi negara yang lebih dari Amerika Serikat, asalkan orang Indonesia mau untuk bergerak sedikit mengolah sumber daya alam (SDA) di Indonesia.
"Sebenarnya kalau kita rajin sedikit, Amerika mah lewat. Masalahnya orang Indonesia enggak berani jalan sendiri, sukanya main tunggu-tungguan. Ya repot kalau begini," ungkapnya.

Minggu, 13 Februari 2011

PENYIAR RADIO, HOBBY ATAU PROFESI ?


Sebuah profesi yang dilakukan karena hobby seharusnya akan menghasilkan output yang berbeda dibandingkan dengan profesi yang dilakukan karena terpaksa atau kepepet. Suatu pekerjaan yang dilakukan dengan kecintaan penuh, totalitas dan tanpa pamrih akan memberikan sebuah kualitas yang jauh berbeda dibandingkan dengan pekerjaan yang dilakukan karena mengejar kebutuhan hidup alias sekedar "mencari uang".

Masalah sebenarnya bukanlah pada pernyataan apakah ini hobby atau bukan hobby.

Masalahnya adalah : apakah si penyiar, pengelola radio, termasuk si pemilik radio, dan pemasang iklan menyadari atau mau menyadari bahwa RADIO ADALAH SEBUAH INDUSTRI ?

Kalau hal ini tidak dipahami oleh masing-masing pihak, sampai kapanpun gaji penyiar akan dihargai rendah oleh pengelola atau pemilik radio. Mengapa bisa begitu ? Ya, karena selama menjalankan pekerjaannya si penyiar tidak menunjukkan kualitasnya sebagai seorang penyiar yang layak dibayar tinggi. Buat apa dibayar tinggi, siarannya begitu-begitu saja. Cuma sekedar suka-suka si penyiar. Toh cuma hobby, begitu pendapat si penyiar. Nanti kalau sudah lulus atau ada tawaran pekerjaan di perusahaan lain, yang bukan radio tentunya, ya ucapkan selamat tinggal radio. Ngapain dibela-belain. Penyiar kan hanya batu loncatan.

Yang kedua, kalau pengelola atau pemilik radio tidak menganggap radio sebagai sebuah INDUSTRI yang "BISA MENJADI BESAR' dan "HARUS MENJADI BESAR" tentunya pemasang iklan juga akan bisa merasakan hal yang sama. Ahh, radio itu enggak niat, enggak bonafide. Buktinya, kantornya aja kayak begitu, studionya kecil, dan lain-lain. Sehingga salah satu dampaknya adalah harga iklan sulit untuk menjadi tinggi.Mana mau klient membayar mahal untuk perusahaan yang dianggap enggak bonafide.

Yang ketiga, pemasang iklan yang tidak mau menyadari bahwa radio adalah sebuah industri , tentunya dengan seenaknya sendiri akan menawar harga iklan serendah-rendahnya. Yang penting radio mau kasih harga murah, dia pasti pasang.

Ibaratnya lingkaran setan. Salah satu tidak menyadari fungsinya sebagai sebuah industri, akan berpengaruh pada yang lainnya.

Sebagai layaknya sebuah industri, tidak peduli di kota besar ataupun kecil, berprofesi di radio bisa menjadi sangat menjanjikan dan bisa tidak menjanjikan. Seperti juga bekerja di bank, bisa menjanjikan bisa juga tidak menjanjikan. Tinggal tergantung di Bank mana, Bank yang sehat atau bank yang tidak sehat ?

Jadi, bersyukurlah anda yang berprofesi sebagai penyiar karena "benar-benar hobby" bukan "sok hobby". Maksimalkan kemampuan anda dan kualitas anda akan terbaca oleh atasan anda atau atasan orang lain.

Dan bersyukurlah para pengelola atau pemilik radio yang punya penyiar yang bekerja karena hobby dan kecintaan penuh, karena itulah aset anda yang termahal.

Lusy Laksita ( Senior Broadcaster ) Bangga Jadi Orang Radio

Lusy Laksita menulispada 07 Februari 2009 jam 21:54
Menjadi Penyiar Radio? Di radio paling okey? Tidak pernah terbayangkan oleh saya, meskipun saya sempat membayangkan enaknya dan asyiknya menjadi penyiar radio. Dalam bayangan saya menjadi penyiar radio itu enak sekali, tugasnya memutar lagu, berbicara sesukanya asal bisa membuat pendengar senang, jam kerja pendek, banyak uang, terkenal lagi. Tapi apa iya sih? Dalam kenyataannya setelah saya bergelut dengan profesi tersebut, yang saya kerjakan lebih dari yang saya bayangkan.

Sharing kita melalui tulisan saya ini, akan saya awali dengan sedikit ilustrasi tentang bagaimana saya mengawali karir sebagai seorang broadcaster di media radio. Karir sebagai broadcaster saya mulai dengan menjalani tugas sebagi penyiar radio. Pertama kali memasuki dunia broadcasting tidak pernah terpikir bahwa akhirnya saya menemukan dunia saya di sini hingga saat ini, meski sudah tidak bekerja di sebuah stasiun radio, tapi saya punya komitmen terhadap dunia radio paling tidak dengan berbagi pengalaman seperti ini. Ketertarikan saya pada profesi penyiar radio timbul ketika saya melihat seorang penyiar radio sedang siaran, tiba tiba saja saya punya keinginan untuk menjadi seperti dia, dan ketika kesempatan itu ada, saya mencoba, saya dapat meraihnya dan bisa menikmatinya hingga sekarang.

Profesi penyiar radio banyak memberikan kesempatan dan peluang bagi saya. Tanggung jawab di luar pekerjaan sebagai penyiar radio secara bertahap saya kerjakan berkat kemampuan saya menjadi seorang penyiar radio. Mulai dari Reporter, Narator Iklan, Script Writer, Programme Director. Bahkan kesempatan di luar radio seperti menjadi MC, Penyiar TV dan lain sebagainya. Pengalaman menunjukkan bahwa saya harus punya komitmen terhadap profesi penyiar radio agar saya benar benar dapat menjalaninya dengan sebaik baiknya, penuh tanggung jawab dan professional. Profesi penyiar radio banyak memberi pengalaman dan bekal bagi saya. Sebagai penyiar radio, banyak tuntutan masyarakat yang harus saya penuhi. Masyarakat menganggap bahwa penyiar radio itu serba tahu bukan hanya tentang broadcasting tetapi lebih dari itu, tahu semua segi kehidupan. Tuntutan inilah yang membuat saya harus membekali diri dengan berbagai macam pengetahuan.

Penyiar radio seperti banyak orang tahu, tugasnya adalah menyiarkan hal-hal yang perlu diketahui pendengar melalui siaran, baik melalui lagu maupun kalimat yang diucapkan. Sangat sederhana dan mudah sepertinya. Tetapi sebagai seorang yang punya komitmen terhadap profesi, saya merasa ternyata tidak sesederhana itu tugas seorang penyiar radio. Profesi peyiar radio menurut saya memang harus dijalani dengan strategi yang berbeda dengan profesi lain.

Sebagai penyiar radio kita harus menjadi teman bagi pendengar, bukan saja teman di udara melalui siaran, tetapi justru kita juga harus menjadi teman saat kita sedang tidak siaran.Yang terpenting dalam menjalani profesi penyiar radio adalah Human Relations, hubungan kita dengan orang lain. Banyak penyiar radio terbuka, sangat bersahabat ketika sedang siaran, tetapi begitu menjalin relationship di luar jam siaran akan berubah menjadi orang yang angkuh, sombong dan tidak bersahabat dengan pendengarnya. Situasi inilah yang justru akan menjadi bumerang.

Ada beberapa hal yang perlu diingat bagi siapa saja yang ingin berkarir di dunia broadcasting khususnya sebagai Penyiar Radio. Hal tersebut adalah Kemauan, Komitmen, Sikap Profesional dan Pribadi Yang Terbuka. Kemauan merupakan bekal dasar, karena dari kemauan itu akan timbul satu semangat untuk mewujudkannya. Kemauan tidak hanya sekedar keinginan untuk mewujudkan sesuatu yang menjadi tujuan, tetapi juga merupakan keberanian untuk merah kesempatan dan peluang yang ada. Komitmen mendorong kita untuk mengembangkan kemampuan dan mengembangkan diri serta memantapkan cita-cita yang kita miliki. Hal ini akan membuat kita lebih menghargai profesi yang kita jalani. Sikap Profesional membuat kita makin bertanggng jawab terhadap profesi kita. Profesional sebenarnya bukan dilihat dari berapa nilai nominal yang kita terima dari profesi kita, tetapi yang lebih tepat adalah bagaimana kita bertanggung jawab terhadap profesi kita, diri kita dan orang lain (pendengar dan pengelola radio). Pribadi Yang Terbuka akan membantu kita dalam menjaga hubungan antar pribadi selalu baik. Terbuka meliputi terbuka menerima kritik, terbuka menerima siapa saja dan terbuka untuk belajar.

Hal lain yang perlu kita miliki sebagai seorang penyiar radio adalah Etika dan Rasa . Etika diperlukan dalam kita menjalin hubungan dengan siapa saja baik dengan teman kerja, relasi bahkan pendengar. Bekerja sebagai penyiar radio sangat berbeda dengan bekerja di bidang lain. Rasa sangat berperan dalam kita menjalani profesi sebagai penyiar radio. Karena Rasa yang berperan akhirnya dalam siaran kita tidak melihat hasil siaran kita sebagai hasil kerja tetapi lebih pada sebagai Karya. Terhadap sebuah karya, keinginan untuk menghasilkan karya yang lebih baik akan muncul bersamaan dengan kepuasan kita terhadap karya yang baru saja kita hasilkan. Artinya kita akan selalu mempunyai keinginan menghasilkan karya yang lebih baik dan tidak akan gampang puas dengan karya kita.

Seorang penyiar radio ternyata juga harus mempunyai Manajemen Diri yang baik. Bagaimana kita bisa menjalani profesi penyiar radio dengan profesional kalau kita tidak dapat mengatur diri kita, yang sangat tahu situasi dan kondisi kita adalah diri kita sendiri, sehingga mau tidak mau kita sendirilah yang paling bisa mengatur diri kita.

Tahun ini, 21 tahun tepat saya berkarya sebagai seorang broadcaster dan entah sampai kapan. Semua saya jalani dengan rasa cinta pada dunia saya ini. Selama itu saya punya kesempatan berkarya di 4 stasiun radio, 3 di Jogja dan 1 di Semarang. Yang menyenangkan ternyata profesi penyiar radio tidak hanya memberi kesempatan bagi saya berkarya di ruang siar, tetapi juga berkarya di luar ruang siar radio, yaitu sebagai Programme Manager, Marketing Manager & PR dan bahkan General Manager radio. Saya sangat bersyukur atas kesempatan dan peluang tersebut. Kesempatan saya berkarya di radio ternyata tidak menjadi hambatan bagi saya untuk berkarya di luar dunia radio, misalnya menjadi Penyiar TV, Professional MC, Trainer, Dosen, dan bergelut dengan dunia komunikasi yang sangat menyenangkan ini.

Kesempatan yang saya rasakan adalah juga milik semua orang, jadi siapapun bisa untuk mendapatkan, artinya sayapun harus ikhlas memberikan peluang kepada orang lain.

Saya sering bertanya dalam hati, apakah saya bisa raih semua ini kalau saya tidak menjadi penyiar radio? Jawabannya adalah semua yang saya jalani hingga saat ini berawal dari profesi Penyiar Radio!!!!!! (-ML-)

Kamis, 10 Februari 2011

Film Ungu 'Purple in Love' Pasha: Ternyata Reading Itu Menyenangkan

Nah.. sepertinya vokalis Ungu, Pasha, sudah klik dengan dunia akting. Meskipun awalnya bete melihat naskah 100 halaman, namun begitu melakukan reading, dia pun mulai menikmati.

“Gue lupa sudah berapa kali (reading). Mungkin sudah 20 kali, boleh dibilang sudah dua bulan kami menjalani reading. Kalau kata Om Didi Petet yang latih akting kami, sekarang kami sudah ada perkembangan. Ternyata, reading itu menenangkan,” ungkap Pasha saat menjalani proses reading untuk film Purple in Love di Moviesta Pictures, Bintaro, Jakarta, Kamis (10/2/2011).

Pertama kali, ayah tiga anak ini tidak menyangkal jika ada rasa takut untuk terjun ke dunia akting. Namun setelah menjalani proses reading, yang awalnya dirasa menjemukan, ternyata di tengah jalan semua personel Ungu pun mulai menyenangi proses yang mereka jalani.

“Kami mulai syuting tanggal 23 Februari,” imbuh pemilik nama Sigit Purnomo ini.

Sekali lagi, calon suami Adelia Wilhelmina ini mengakui tidak ada kesulitan pada akhirnya. Dia pun paham, proses reading yang harus dilalui aktor/aktris berfungsi untuk meminimalisasi kesulitan yang ada di benak para pemain film.

“Jujur skenario gue cukup tebal, kurang lebih 100 halaman. Tadinya itu kesulitan, tapi setelah dijalani menyenangkan,” tandas Pasha

Ungu Mulai Syuting 'Purple Love' 23 Februari

JAKARTA - Tak mau ketinggalan, grup band papan atas Ungu, akan membintangi film berjudul Puple to Love. Rencananya, syuting perdana akan dimulai 23 Februari mendatang.

“Udah reading. Ceritanya drama komedi, ada suspendnya sendiri. Tapi di film ini, nama kita sendiri,” papar basis Ungu, Maki, ditemui di Hardrock Cafe, Jakarta, Rabu (9/2/2011).

Dalam film yang bercerita tentang Ungu, jelas saja mereka memerankan diri sendiri. Meskipun demikian ada naskah yang harus mereka patuhi.

Purple to Love syuting 23 Februari. Ternyata, reading itu susah banget ya. Yang jadi mentor kita, Kang Didi Petet dan memang susah banget,” imbuh Maki.

Selama proses reading, Ungu merasa serba salah jika tidak bisa memahami penjelasan dari sang mentor. Diakui Maki, Didi Petet memang tidak pernah ngomel.

“Kang Didi enggak pernah ngomel, tapi serba salah saja. Kalau ternyata hasilnya enggak bagus, bagaimana?” tukasnya.

Langkah Ungu membintangi film, sepertinya memang mengikuti jejak Wali Band yang filmnya telah rilis terlebih dahulu. Namun, Wali dan Ungu baru membuat film setelah band mereka berada di papan atas industri tanah air.

Berbeda dengan band Garasi, terbentuk karena mereka membintangi film berjudul Garasi. Sebelum Wali dan Ungu, tercatat Slank juga pernah membintangi film berjudul Generasi Biru

'Ibu', Lagu Religi Ungu yang Bernyawa

Ada pesan khusus untuk ibu. Ini yang membuat Enda. Apalagi dia jarang ketemu ibunya. Makanya kita pilih ini," ujar personel Ungu, Maki, yang ditemui di kantor Trinity Optima, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat.

Proses pembuatan lagu tersebut tidak mudah. Karena ingin menyentuh pendengar dan berusaha menuangkan perasaan ibu, alhasil penggarapan lagu itu memakan waktu hingga tiga bulan.

"Ini paling lama karena kata-katanya bisa mewakili semua orang. Gue buat enggak berhenti-berhenti untuk dapat feel songnya. Pembuatannya sekira 2 hingga 3 bulan. Biasanya kalau bikin lagu hanya 5 menit. Kita beban karena ini bicara sosok ibu," aku Enda.

Guna menimbulkan nuansa sendu dan penuh penghayatan, Ungu memakai jasa Andi Rianto untuk membantu aransemen musik. Ungu juga menambahkan unsur alat musik cello. Diakui Pasha, lagu Ibu itu seperti memiliki nyawa dan sanggup membuatnya menangis ketika take vokal.

"Saya sampai menangis saat take lagunya. Selama 10 tahun berkarya, kita merasa lagu ini ada nyawanya," ujar Pasha.(ang)

Rabu, 09 Februari 2011

Lilo: KLa Project Punya Keterikatan Emosi dengan Yogyakarta

Di mata personel grup musik KLa Project, Yogyakarta memiliki kesan yang begitu mendalam. Suasana kota yang hangat dan damai membuat Katon Bagaskara (vokal), Lilo Radjadin (gitar), dan Adi Adrian (keyboard) begitu berkesan.

Itulah yang kemudian menginspirasi mereka untuk menciptakan sebuah lagu bertajuk "Jogjakarta" yang menjadikannya sebagai mahakarya grup ini. Yogyakarta yang digambarkan KLa dalam lagunya kini terasa berbeda.

Letusan Gunung Merapi yang saat ini masih bergejolak membuat sebagian wilayah di Yogyakarta luluh lantak. Ratusan warga menjadi korban. Ternak, sawah, dan rumah mereka habis diterjang awan panas yang terus berkecamuk.

Duka warga Yogyakarta, kata Lilo Radjadin (gitaris), juga bisa dirasakan oleh KLa Project. Ya, Yogyakarta begitu memiliki kaitan emosi yang tak bisa dipisahkan dengan mereka. Ketika duka kembali menyapa Yogyakarta, Lilo bersama rekannya—Katon Bagaskara dan Adi Adria—pun berharap bisa berbuat sesuatu yang bisa membantu warga korban Merapi.